Belajar Dari Seorang Da Vinci

Nyampe dirumah trus mandi, sholat. Eh, kebalik. Sholat trus mandi trus menyeduh kopi dan setelah hangat dituang dengan susu full krim. Gak sabaran, kopi susu racikan sendiri ini pun diseruput. Wuiih… Nikmatnya sampe ke ubun-ubun. Tapi, tiba-tiba pikiran saya seperti memutar kembali kejadian di kantor tadi siang. Saya seperti gak bisa melepaskan pikiran tentang sosok seorang anak yang ikut sebagai peserta tes wawancara di kantor saya. Bukan tes wawancara untuk dapetin kerjaan tapi wawancara untuk menjadi mahasiswa baru.


Saya jadi teringat dengan kesan pertama yang saya dapatkan dari anak ini. Disaat dia ikut pendaftaran tes seleksi SPMB, saya lah yang melayani dia dalam proses pendaftaran. Gak seperti pada umumnya calon peserta yang saya tanya-tanya mengenai kelengkapan persyaratan pendaftaran, tapi dengan anak ini yang saya tanya adalah kenapa dia mau-maunya daftar ikutan SPMB. Dia dengan santainya menjawab: “cuma mau nyoba aja”. Tapi yang bikin saya sedikit penasaran, nilai UN ni anak rata-rata diatas 9,6 semua bahkan bisa dikatakan hampir sempurna. Kenapa dia gak nyoba SPMB di perguruan tinggi negeri. Dan kontan saja belum sempat saya nanyain itu, ni anak langsung ngejawab: “sebenernya, saya udah lulus lewat jalur khusus di Fakultas Kedokteran Gigi di Unsri, kak..” Nah loh, makin heran saya. Ya udah lah, saya pun berpendapat orang cuma nyoba kan gak ada salahnya juga.

Saya sempet ‘under estimated’ sama ni anak. Saya menduga kalo anak ini cuma mau ngetes kemampuannya dalam mengikuti tes kemampuan tertulis. Sampe disitu aja, mungkin dia gak bakalan nerusin ke proses seleksi berikutnya. Dan benar saja, dugaan saya salah. Pada saat dinyatakan lulus. Anak ini malah mendaftar keikutsertaan tes kesehatan. Wah, kayaknya serius juga anak ini ya. Saya bergumam dalam hati. Dan sekali lagi saya masih menduga kalo anak ini hanya sebatas ini saja, hanya sampe batas tes kesehatan. Tapi, dugaan saya salah (lagi). Pada saat dinyatakan lulus dan bisa mengikuti tes wawancara, anak ini menyatakan ikut serta dalam proses tes wawancara.

Sedari pagi saya sudah menyusun absensi peserta tes wawancara dan saya mencari nama anak ini yang bisa dikatakan cukup unik. Ya, namanya Da Vinci. Bener loh, itu nama belakangnya. Ternyata jadwal wawancara untuk seorang Da Vinci muda ini adalah jam 2 siang dan saya memeriksa siapa petugas yang akan mewawancarainya. Singkat cerita, selepas sholat dzuhur dan makan siang. Da Vinci muda dateng bersamaan dengan orang tua laki-lakinya (sekali lagi saya menebak). Langsung saya hampiri dan menanyakan jadwal si Da Vinci. Setelah saya verifikasi, saya memberitahu petugas yang akan mewawancarainya. Setelah menunggu beberapa waktu, giliran Da Vinci memasuki ruangan bersama dengan orang tua laki-lakinya (sesuai dugaan saya) dan duduk di ruangan wawancara . Sebelum Da Vinci masuk, saya memberikan sedikit bocoran mengenai Da Vinci kepada petugas yang akan mewawancarainya kalo dia (Da Vinci) sudah diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Unsri. Akhirnya Da Vinci masuk ruangan dan mengikuti tes wawancara. Sekitar 30 menit lebih sedikit, Da Vinci keluar ruangan dan berpapasan dengan saya, sambil menyapa orang tua laki-laki yang mendampinginya (yang saya duga loh).

“udah selesai, pak?” – “Oh, udah pak..” – “Oya, nanti tunggu pengumumannya tanggal 28 Juni ya.. Semoga lulus” – “iya, pak. terima kasih, pak. Kami pamit dulu” – “oya, hati-hati ya..”.

Saya melihat Da Vinci yang saat itu berpenampilan rapi dan cukup berkarisma sambil melempar senyum yang agak di tahan kepada saya. Saya pun sedikit menganggukan kepala tanda saya mengucapkan terima kasih.

Setelah itu, saya langsung masuk ke ruangan tempat Da Vinci tadi diwawancara dan seketika itu juga petugas yang mewancarai Da Vinci berujar:

“kasian banget tuh anak, yu..” – “Loh, emang knapa mbak?”  – “Anaknya berprestasi, pinter dan memang bener dia udah lulus di kedokteran gigi. Tapi pas aku tanya kenapa kedokteran gak diambil. Yahh gitu deh.. Balik-balik masalah biaya. Tapi sebenernya, keterangan dari pamannya itu loh yang bikin aku sedih” – “Pamannya..??” – “Iya, yang nemenin dia itu pamannya bukan bapak kandungnya. Begini yu.. Ibunya itu sudah meninggal dan dia (Da Vinci) dengan sodara-sodara kandungnya yang laen diasuh oleh pamannya dan semua biaya hidup termasuk sekolah pamannya ini yang menanggung” – “Loh emang bapaknya..??” – “Ah, gak usah diceritain aja aku sudah nangkep, yu….”

Saya mendadak sesak dada. Sejenak saya diam dan mencoba untuk membuka pembicaraan kembali. Tapi segera saja saya meninggalkan tempat tersebut dan sambil terbayang wajah si Da Vinci. Saya terbayang nilai-nilai UN Da Vinci yang tertera di SKHU yang hampir sempurna dan ternyata ada sebuah ‘rahasi’ yang akhirnya saya tau bahwa seorang Da Vinci kecil ini sudah berada dalam suatu kondisi yang mungkin saja tidak pernah dia dan saudara-saudaranya harapkan di usia yang masih muda . Mungkin persoalan ekonomi sudah menjadi masalah klasik di jaman sekarang ini. Namun, latar belakang keluarga terutama sang ayah yang seharusnya ada disampingnya untuk mendampingi ternyata tidak seperti dugaan saya dan sementara ibu kandungnya pun yang bisa jadi menjadi tempat curhat bagi seorang gadis muda seperti Da Vinci sudah tidak bisa menemani lagi.

Ini hanya salah satu kisah yang terjadi didepan mata saya, dan jika Da Vinci benar-benar menjadi bagian dari anak didik kami sudah pasti Da Vinci menjadi orang yang akan terus mengingatkan saya. Tapi apa yang sudah saya dapatkan dari kesan dari seorang Da Vinci, cukuplah itu menjadi sesuatu hal yang istimewa yang bisa saya sebut sebagai jalan hidayah. Wahyu Budiyono muda masih jauh lebih beruntung dibandingkan seorang gadis muda yang segera melukiskan masa depan gemilangnya dari sebuah pengharapan yang disebut ILMU. Dan pantaslah dia bernama Da Vinci🙂

5 responses to “Belajar Dari Seorang Da Vinci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s