CINTA BERADAPTASI

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat sebuah pembicaraan yang sangat menarik dengan seorang yang saya kenal dekat. Pembicaraan yang awalnya hanya bertegur sapa berlanjut dengan pembicaraan mengenai soal CINTA. Hehehehehe.. topik yang gak pernah habis buat dijadiin tema obrolan. Tapi pembicaraan soal cinta kali ini ada yang bikin menarik. Apa tuh? Soal cinta terhadap seseorang yang nggak bisa hilang atau kata lainnya cinta yang sudah menjadi bagian hidup dari orang itu. LOVE AS A PART OF LIFE.

Eh beneran nih… Teman saya itu nanya: “Kok, bisa sih cinta terhadap seseorang itu gak hilang atau dihilangin aja?” Ya, sebenernya bisa-bisa aja. Tapi kalau kita bicara soal cinta yang baik, kayaknya gak mesti dihilangin atau dibuang dari kehidupan kita deh… Trus, gimana dong… Pembicaraan kita rada agak terbatas karena waktu, makanya saya mau jelasin pandangan saya terhadap cinta yang baik yang gak harus dihilangin itu kepada teman saya ini lewat Blog saya. Moga-moga aja bikin jelas apa yang menjadi pandangan saya mengenai topik pembicaraan kami ini.

Ada sebuah ilustrasi, dimana ada seorang cowok / cewek yang masih menyimpan rasa cintanya terhadap pasangannya dulu  walaupun kondisi mereka berdua berbeda dengan kondisi mereka yang sekarang ini dimana dulu mereka pernah menjalin cinta, ciye… ciye… Ehm, balik serius nih… Nah, cerita berlanjut, memang mereka sempat menjalin hubungan cinta layaknya para remaja lain pada masa itu. Tapi dengan seiring waktu berjalan masing-masing dari mereka akhirnya telah memiliki kekasih. Tapi salah seorang dari mereka masih menyimpan perasaan cinta terhadap yang lain. Ini menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah masih dianggap sesuatu hal yang normal jika cinta yang dulu pernah ada masih ada samapai sekarang  walaupun mereka suda tidak berpacaran lagi. [Kayak sinetron yak, padahal gw eneg banget ma sinetron]… Ok, ok.. lanjut… Pertanyaannya adalah kok bisa gitu ya punya cinta yang masih disimpen padahal kondisinya sudah beda? Kan kasian dengan pacarnya yang sekarang dong.. Trus gimana pandangan saya terhadap topik seperti ini?

Makanya saya bela-belain nulis tanggapan saya tentang topik cinta yang kayak beginian. Menurut saya, normal-normal saja selama perasaan CINTA / CINTA yang ada tidak melanggar nroma-norma hukum, agama dan sosial budaya. Kok gitu? Begini: CINTA kan anugerah, berkah, sesuatu yang abstrak tapi kerasa banget rasanya. Kayak angin gitu, gak keliatan tapi bisa dirasakan. Kehadiran CINTA itu beneran bisa dirasain banget. Karena CINTA juga bisa sebagai motivasi hidup terbesar, kekuatan dan juga bagian dari yang namanya IMAN / KEYAKINAN. Kalau kondisi yang digambarin diatas itu masih dalam ruang lingkup dimana kedua orang yang pernah pacaran itu sama-sama belum menikah / merencanakan pernikahan, gak jadi soal. Yang penting sekali lagi saya tegaskan, digarisin bawah, ditebelin tulisannya, diterangin pake stabilo. SELAGI TIDAK MELANGGAR HUKUM NEGARA, AGAMA, NORMA SOSIAL semuanya sah-sah saja.

“BIARKAN CINTA BERADAPTASI SESUAI DENGAN TEMPAT IA BERTUMBUH”

Trus, saya tanya sama teman saya: “Trus, perwujudan rasa cinta salah satunya itu ada gak?” Dia bilang: “Belon”. Saya jawab lagi: “Ya, udah… biarin aja” Dia bilang lagi: “Kok gitu…”

La iya lah.. yang penting perwujudan CINTA dari salah satunya itu masih memandang kenyataan yang ada dan direfleksikan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Contohnya begini:

Dulu waktu kita kecil, orang tua kita kan sayang banget ma kita, wujud dari CINTA mereka salah satunya dengan nemenin kita sekolah, ngajarin belajar, nemenin main, nemenin bobok, nyuapin dan lain lain. Seiring tumbuhnya kita, berkurang gak rasa CINTA orang tua kita terhadap kita walau kita telah tumbuh dewasa? Menurut saya jawabannya: “TIDAK”. CINTA mereka TETAP BESAR bahkan MAKIN BESAR. Trus, apakah perwujudan CINTA mereka itu sama dengan kondisi kita sewaktu kecil? Jawabannya: “YA.. NGGAK LAH!!!”. Emang lu masih mau dikelonin tidur, disupain makan, dimandiin, dianterin kekantor?? Yang pasti gua yakin lo pada gak bakalan mau kan…..

Sekali lagi ni ya… Apakah dengan gak nemenin tidur lagi, gak nyuapin lagi, gak mandiin lagi, gak nganterin lagi semuanya itu bisa dikatakan bahwa orang tua kita gak CINTA lagi kepada kita? Jawabannya: “TIDAK”. Nah, ini yang saya sebut sebagai ADAPTASI CINTA. KADARNYA SAMA BAHKAN BERTAMBAH TAPI PERWUJUDANNYA BERADAPTASI DENGAN LINGKUNGAN, KONDISI SERTA SITUASI SESUAI TEMPAT CINTA ITU BERTUMBUH.

Kalo CINTA beneran bisa begini dan kenyataannya bisa begini, kenapa CINTA harus dihilangkan bahkan menghilang? Kecuali kita yang memiliki CINTA itu memang menginginkannya untuk hilang. Kembali kecerita tadi… Bagi saya kalau memang bener masih ada CINTA pada salah satu dari mereka, biarkan aja CINTA itu tumbuh sesuai dengan keadaan yang terus berjalan. Kalau pun nantinya mereka berjodoh kan syukur Alhamdulillah, kalau enggak kan bisa beradaptasi menjadi CINTA kepada seorang sahabat / saudara, kalau masing-masing udah punya pacar kan bisa aja CINTA itu menjadi cinta sebagai teman biasa.

Apa yang kita bisa bayangkan kalau dihati dan pikiran ini CINTA sudah tak ada??????

Anak kecil akan menjadi objek pelampiasan amarah, orang tua menjadi tempat yang selalu dipersalahakan, teman akan menjadi musuh terbesar dan dunia akan menjadi tempat yang paling tidak nyaman untuk ditinggali. Ya.. akibatnya benci pun tumbuh walaupun terhadap diri sendiri. KEBINASAAN lah akan menjadi akhir dari cerita jika CINTA sudah tak ada. Bukan kah salah satu tanda dari datangnya kiamat adalah dengan hilangnya CINTA. CINTA terhadap TUHAN, MAKHLUK TUHAN, HAMBA TUHAN bahkan DIRI SENDIRI. Bukankah menghargai juga melibatkan CINTA. CINTA juga terlibat secara langsung terhadap pertanggung jawaban seorang kepala rumah tangga untuk menafkahi keluarganya, CINTA juga lah yang memainkan peran untuk mendamaikan, CINTA lah yang membuat diri kita mampu memaafkan kesalahan yang ada dan menerima pembelajaran dari kesalahan yang ada, CINTA menjadi aktor utama penambah keyakinan kepada SANG KHALIK dan utusan-utusan-Nya… Biarkan diri ini menikmati manisnya IMAN karena adanya CINTA yang membuat segalanya menjadi mudah.

So, mari jadikan CINTA sebagai sumber inspirasi utama, kekuatan dan kemampuan serta kemauan untuk merubah dunia ini menjadi lebih berarti.

Sekarang saatnya untuk bernyanyi:

“… Tau kah Kau diri ku tak sanggup hidup bila Kau jauh dariku ku ingin dipeluk Mu selalu…

Oh, Tuhan tetapkan rasa CINTA ku ini hanya untuk Mu. Selalu setia selama-lamanya…”

5 responses to “CINTA BERADAPTASI

  1. terkadang cinta tak harus memiliki,cinta akan membiarkan orang yang dcintai bahagia walau tanpanya,cinta hadir dengan tulus tanpa mengharapkan pamrih,cinta adalah anugrah terbesar dari Nya

  2. Semuanya kembali pada diri / pribadi masing-masing, toh hidup adalah pilihan, semua tergantung dari bagaimana cara kita memilih, dan lagi – lagi ini adalah bagaimana melihat cara pandang seseorang dan kedewasaan diri mereka

  3. cinta tu bkan sebuah permainan….
    dmn kta dah bosan, pindah kelain hati….
    cinta tu butuh pengorbanan, kejujuran, pengertian, kasih sayang dan komunikasi……

    cinta itu sulit untuk diungkapkan…
    tp……
    mudah untuk dirasakan…..
    cinta itu PENGABDIAN DIRI TERHADAP HATI
    cinta itu PANDANGAN YG DLM TRHDP AURA KEIKHLASAN

    cinta itu bkan dmulai dari januari dan berakhir di desember…
    tpi……
    cinta itu sejati_untuk hri ne, esok dan selamanya……..^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s