HANCURKAN NEGARA DARI KAUM MUDANYA!

Kalau ada pihak yang senang bila program Keluarga Berencana [KB] gagal maka salah satunya yang merasakan kegembiraan gagalnya program tersebut adalah para produsen rokok. Semakin banyak anak-anak yang dilahirkan di Indonesia, semakin besar potensi pasar mereka.

Dalam satu laporan tahunannya, dengan penuh semangat Gudang Garam menandai “lebih dari 45 persen penduduk di Indonesia berusia dibawah 20 tahun.” Itu artinya hampir 100 juta nyawa yang akan menjadi target promosi racun mereka.

Karena televisi, radio bahkan media iklan rokok lainya (termasuk spanduk “selamat berpuasa” dari perusahan-perusahan rokok yang dipasang dimasjid-masjid) menguasai setiap sudut hidup dan kesadaran kita, maka bahkan anak-anak sekolah pun dipasang untuk memerankan sekumpulan anak muda yang seakan menyerukan semangat sumpah pemuda tapi dalam peran iklan rokok. Menurut mereka kalau rokok merek X bisa bikin hidup lebih hidup. Atau menggambarkan kritik-kritik nakal kalau ngerokok merek A. Bahkan tak tanggung-tanggung anak cadel pun fasih berujar “bukan baca baci”. Lalu, mungkin belum genap anak yang cadel ini akhir baligh, dia sudah mencoba-coba menghisap barang yang bukan basa basi kandungan racunnya.

Bagaimana para produsen roko menjual barang yang menyebabkan 5,5 juta manusia Indonesia sakit komplikasi setiap tahunnya?. Oh… itu perkara guampang.

Pakai saja artis-artis macam Rif/, Netral, Padi dan yang lain atau bahkan artis sekaliber Bond dan The Corrs untuk mengiklankan dan bernyanyi diberbagai konser yang mereka selenggarakan diseluruh dunia dengan sponsor rokok. Atau yang lebih keren lagi, buat saja iklan rokok yang menggambarkan betapa suksesnya seseorang yang perokok sehingga bisa mengendarai sebuah mobil berkelas mewah, jalan-jalan dengan kapal pesiar pribadi ataupun dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang seakan-akan dengan sedikit lirikan mampu digaet. Atau dengan cara lain, pasang saja iklan di Billboard dengan menggunakan kalimat-kalimat bodoh tapi sok cerdas, macam “Ekspresikan Aksimu” atau “Kalau Cinta Itu Memang Buta, Buat Apa Ada Bikini?”.

“Heh, ini urusan aku bukan urusan kau. Urus be urusan kau dewek sano!” Begitu sahutan seorang pria disalah satu Mall di Palembang dengan mengandeng istrinya yang berjilbab yang sedang menggendong anaknya yang mungkin berusia sekitar 8 bulanan sambil merokok ketika seorang pemuda yang duduk disamping penulis menegur bahwa dia telah membahayakan keluarganya.

Pria itu tidak bedanya dengan jutaan orang lain yang mengira keputusannya untuk meroko adalah keputusan yang bersifat pribadi dan tidak merugikan orang lain. Padahal, menyemburkan 4000 bahan kimia beracun (termasuk 43 bahan pemicu kanker) ke tenggorokan orang lain, meskipun anak dan istri sendiri, sudah merupakan pelanggaran hak asazi manusia. Andai saja, asap yang beracun tersebut dibuat menjadi sebuah senjata yang kemudian disemburkan secara langsung kehidung presiden amerika Goerge W. Bush, mungkin sudah digelandang oleh para secret agent dan divonis sebagai teroris. Padahal, amerika merupakan pengekspor asap bercaun tersebut terbesar didunia melalui raksasa rokoknya Philip Morris.

Yang banyak tidak disadari oleh banyak perokok adalah bahwa menghisap asap rokok orang lain (yang dikenal sebagai Environmental Tobacco Smoke, ETS) adalah sama bahayanya dengan perokok aktif. Padahal lebih dari separuhnya (57%) pada setiap rumah yang berpenghuni di Indonesia memiliki tidak kurang 1 perokok aktif – dan hampir semuanya menjadi perokok, yang asap buangannya disedot oleh seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak mereka.

Seorang yang bukan perokok yang menikah dengan seorang perokok mempunyai resiko terkena kanker paru sebanyak 25-35% dan juga penyakit jantung. Ibu hamil yang merokok selama masa kehamilannya atau ibu yang menghisap asap rokok dilingkungannya akan melahirkan bayi-bayi yang bobot badannya rendah, cacat atau bahkan terlahir mati.

Lebih dari 43 juta anak-anak Indonesia hidup bersama perokok dan terpapar oleh asap rokok lingkungan (ETS)!.

Sebuah penelitian ditahun 2000 yang diberi nama Jakarta Global Youth Tobacco Survey pada murid sekolah usia 13-15 tahun melaporkan bahwa 89% anak menyedot asap rokok lingkungan ditempat umum. Anak yang menyedot asap rokok akan mengalami perkembangan dan gangguan fungsi paru seperti gejala awal yang ditandai dengan Bronchitis, Pneumonia, dan penyakit telinga.

Dr. Tjandra Yoga Aditama, seorang ahli paru di RS Persahabatan Jakarta Timur, menyebutkan dibawah ini daftar gangguan kesehatan yang sering dialami oleh anak-anak yang terkena dampak buruk dari asap rokok lingkungan (ETS), diantaranya:

 

  • Lebih sering masuk rumah sakit
  • Lebih sering terkena Pneumonia dan berbagai penyakit paru lainnya
  • Lebih sering terkena serangan asma dan juga yang lebih berat lagi
  • Lebih banyak kasus sudden infant death syndrome (bayi yang meninggal mendadak)
  • Lebih sering menderita infeksi telinga tengah
  • Lebih banyak menjalani tonsilektomi (operasi amandel) dan adenoidektomi.

Rusaknya kesehatan anak-anak merupakan awal dari bencana rusaknya masa depan anak-anak. Yang juga berarti hilangnya produktivitas generasi penerus yang dikarenakan sibuknya berobat akibat penyakit yang disebabkan oleh asap rokok. Sehingga bisa dikatakan bahwa akan hilangnya generasi (lost generation) yang meneruskan produktivitas bangsa.

Jadi, apakah Anda termasuk salah seorang yang selain menghancurkan diri sendiri juga menghancurkan masa depan dan merugikan orang lain?

 

eNbE:

Penulis tidak bermaksud menghimbau untuk para pembaca (yang perokok) untuk berhenti ataupun menggurui. Tapi semata-mata dapat bersama-sama melokalisir penyebaran asap rokok yang kita hisap tidak ikut terhisap orang lain yang tidak merokok khususnya keluarga, orang disekitar kita dan anak-anak.

7 responses to “HANCURKAN NEGARA DARI KAUM MUDANYA!

  1. Perokok sebenernya sudah SANGAT TAHU dampak negatif dari me-rokok-nya dya, tapi kadang kurang tau dampak negatif bagi orang lain karena ulah-rokok-nya.

    makanya apresiasi yang tinggi buat orang yang perduli tentang ini, dengan menyiapkan smoking area dalam rangka melokalisir serpti yang ada ditulisan ini.

    btw Nice Post n salam kenal…

  2. ya kalau bisa berhenti merokok, lebih baik berhenti dari sekarang, karena kalau tidak dari sekarang sampai kapan terus membolongi kantong dan paru – paru dengan asap rokok, dan juga menyumbang global warming, termasuk siap – siap masuk neraka karena mendzolimi orang lain dengan menghisap asap rokok yang dihembuskan

  3. dampak negatif dari rokok sudah bukan barang baru, dan salah satu sektor devisa yang lumayan besar masuk ke kas negara adalah dari cukai rokok ini. menurut saya solusinya cuma satu : Tutup pabriknya..!!! tapi pemerintah setuju gak ya??????

  4. dq tertarik sm eNBe….mslhnya bayangin aja bos..dq dah knal rokok sejak SD, kecanduan sejak SMP, ketauan ortu klas 3 SMA, abis tuh lanjut dik…nah disana brenti…eh abis dik kl 4 thn..mrokok lg mpe skrg? Gimana brentiinnya ya?

  5. Siapa sini yang mau berhenti merokok? Saya bisa membantu agar berhenti merokok untuk selamanya! dijamin! Asalkan datang ke saya dengan niat betul-betul berhenti merokok, saya punya cara tokcer agar tidak merokok lagi untuk selamanya.Dijamin 99,999999% berhasil.

  6. Secondhand smoke, also know as environmental tobacco smoke (ETS), is a mixture of the smoke given off by the burning end of a cigarette, pipe or cigar and the smoke exhaled from the lungs of smokers. It is involuntarily inhaled by nonsmokers, lingers in the air hours after cigarettes have been extinguished and can cause or exacerbate a wide range of adverse health effects in children, including SIDS (Sudden Death Infant Syndrome), cancer, respiratory infections, ear infection and asthma.
    Children’s exposure to secondhand smoke in Indonesia may be 43 Million.Around one-third of smokers – million people continue to smoke near children.Smoking by parents is the principal determinant of children’s exposure to secondhand smoke.

    Please navigate to http://savechildfromsmokers.blogspot.com , and join this group : SAVE CHILD FROM SMOKE (Facebook Group) : working together make a smoke-free homes and smoke-free zones for all children. Dr Widodo Judarwanto, Jakarta Indonesia

  7. sebelum tahun 2006,saya sering merokok, walaupun tidak sampai berbungkus-bungkus. begitu tahun 2006, anak pertama lahir, langsung deh stop merokok. duit dialihkan buat beli susu dan makanan tambahan bagi ibu dan anaknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s