Ibu & Anak Penjual Opak

Ada yang menarik disaat saya dan sesorang sedang jalan dikawasan KIFF Park pada malam minggu yang lalu. Apa yang saya dapatkan disaat kita mau pulang, membuat saya seperti mendapatkan renungan dan pemahaman baru tentang beramal dengan cara menolong. Sengaja saya tulis diBlog saya ini untuk sekaligus terus mengingatkan saya bahwa menolong dengan cara yang cerdas itu adalah perbuatan yang mulia.

Oke.. Begini ceritanya:

Disaat kita berdua sepakat untuk menyudahi obrolan kita yang biasanya selalu saja lupa waktu. Kita pun pulang mengambil rute melewati anak-anak yang asik main skateboard. Ruame, pastinya….

Sambil ngobrol-ngobrol ringan menuju lokasi parkiran yang ada didepan Taman Bank Sumsel, saya menoleh kearah orang yang sedari tadi saya ajak ngobrol karena mendadak dia terdiam. Saya pun mencari-cari kira-kira apa yang membuat dia menujukan pandangannya saat itu. Ternyata, dia sedang memandang fokus keseorang anak dan ibu yang sedang membawa masing-masing 1 kantong besar OPAK [makanan/kripik yang terbuat dari singkong]. Saya pun bilang:

Saya : “Loh.. ada opak ya….”

Fokusnya kearah dua orang anak dan ibu pun agak sedikit terpecah. Sesegera dia mengalihkan pandangannya kepada saya, dan saya pun bereaksi sama… Dan saya pun bilang:

Saya : “Suka ya… Kamu ma…..”

Eh, belum selesai saya bertanya, dia sudah memanggil anak perempuan dari penjual OPAK tersebut yang juga membawa sekantong besar OPAK. Dengan sedikit kepayahan karena menenteng jualan, anak tersebut mendekati kami. Sianak pun memanggil ibunya yang berjarak kurang lebih satu meter didepan anak tersebut. Tanpa banyak basa-basi dan karena saya juga belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya yang saya tanyakan ke dia, saya pun ikut-ikutan berhenti.

Orang yang bersama saya ini pun bertanya dengan yang sipenjual.

Dia : “Berapa dek OPAKNYA???”
Saya : “Gede banget ni OPAK ya Bu….”

Sambil saya kembali beratanya ke Dia

Saya : ” Kamu suka OPAK ya….”.

Lagi-lagi Dia masih cuek, tapi sekali lagi saya memberikan pertanyaan yang sama dan langsung saja jawab.

Dia: “Aku kurang suka OPAK….”.
Saya: “Loh… Kok berani-beraninya beli, knapa? Oran-orang dirumah suka ya…?”
Dia : ” Gak juga… Tapi ntar aku bilangin”.

Sambil sibuk sendiri bertanya harga OPAK yang dijual dan sambil menghitung-hitung uang receh didompetnya. Saya pun bengong melihat Dia bersikap seperti itu… Setelah bayar-membayar OPAK selesai. Dia pun segera bilang ke saya.

Dia : “Aku kasian ma mereka”.
Saya : “Maksudnya…??”
Dia : “Gini loh yu… Kamu gak liat tadi mereka bedua kepayahan banget ngebawa jualannya… Aku gak tega aja ngeliatnya, Ya.. kalo bisa bantu kanapa gak dibantu, kan dengan membeli jualan mereka juga bisa bearti membantu mereka…”.

Saya agak merasa ada sesuatu dalam hati saya tiba-tiba menonjok perasaan saya disaat kembali saya mengalihkan pandangan saya ke arah ibu dan anak perempuan penjual OPAK tersebut. Masya Allah… ternyata mereka berdua tersenyum bahkan sedikit tertawa kecil setelah OPAK mereka Dia beli.  Mungkinsaja, sudah sedari tadi berputar-putar gak ada satu pun orang yang berminta untuk membeli dagangan mereka, yang memang terbilang udah gak jamannya lagi. Seketika itu juga, saya terus-terusan mendapatkan kata-kata diotak saya tentang wajibnya kita bermurah tangan dan hati… Seakan-akan bait-bait tulisan dari buku-buku pemahaman agama yang akhir-akhir ini sedang saya baca seperti kembali terbaca jelas…

Saya pun mendapatkan pencerahan atas kejadian kecil yang saya alami tersebut. Apa yang saya sikapi selama ini ternyata masih kurang dan saya sangat beruntung bisa mendapat pelajaran kecil namun sangat berarti itu. Ternyata, melihat dengan hati yang lebih peka bisa menuntun kita  kerarah pemahaman yang jauh lebih baik. Lalu… BERTINDAK! Jangan sampai hanya sebatas niat… Ituyang penting

Kejadian ini terus menerus saya pikirkan sampai-sampai saya hanya ‘meng-iya iyakan’ saja apa yang dia bicarakan selama kita pulang dan pikiran tentang hal ini terus berlanjut hingga keesokan harinya. Sehingga saya pun memutuskannya untuk menulis apa yang saya alami ini….

Saya ingin sekali memiliki seperti buku yang Dia pinjamkan [sebenarnya saya yang memaksa untuk meminjam🙂 ]. Satu Tiket Ke Surga, ingin sekali saya memilikinya….

EnBe:
Makasih ya… Sudah memberikan saya pelajaran yang sangat berharga, semoga saya pun bisa memiliki sikap seperti kamu ini…


8 responses to “Ibu & Anak Penjual Opak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s