Berawal dari sebuah ucapan yang saya sampaikan di mailing-list Blogger Wongkito tentang wafatnya Da’i besar sejuta ummat – KH. Zainuddin MZ dimana apa yang saya sampaikan dalam mailing-list tersebut mengutip tulisan yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali melalui kitab yang ditulisnya yang berjudul Ihya’ Ulumiddin. Entah mengapa, disaat saya menutup kutipan tersebut dengan keterangan yang diambil dari kitab Ihya’ Ulumiddin, timbul ragu dalam hati saya apakah ejaan judul kitab tersebut sudah benar atau salah. Yang membuat saya ragu terhadap ejaannya adalah apakah Ihya’ Ulumuddin atau Ihya’ Ulumiddin? Hali ini terus-menerus berputar-putar dalam pikiran saya sepanjang langkah kaki saya dari masjid menuju kantor.
Sesampainya dimeja kerja, saya langsung googling dengan mengetik “Ihya’ Ulumiddin” di kolom pencarian. Dan betapa kagetnya saya, tampilan halaman pertama dari Google mencantumkan kalimat “MENGURAI KESESATAN IHYA’ ULUMIDDIN.” Tidak hanya satu link itu saja, namun ada beberapa link yang kurang lebih berisikan kalimat yang tak jauh berbeda. Masya Allah, ada apa ini… Saya pun tak sabaran untuk meng-klik link-link tersebut.
Halaman yang pertama saya kunjungi adalah sebuah blog dengan alamat: muwahiid.wordpress.com. Pada halaman dari blog tersebut menyajikan sebuah kajian yang diambil dari sebuah tulisan kajian dari Al-Ustadz Abu ‘Utsman ‘Ali, Lc. dengan judul tulisan Mengurai Kesesatan Ihya` ‘Ulumiddin yang ternyata diambil dari sebuah alamat forum dengan alamat: indonesiaindonesia.com. Saya (jujur saja) terperangah dengan apa yang terpapar didalam kajian tersebut. Tulisan ini (blog tersebut) membuat saya semakin penasaran dengan link-link selanjutnya yang tidak kalah jauh menarik perhatian saya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan sebuah kitab yang sudah sangat termasyur dikalangan ummat Islam di seluruh dunia ini. Dan saya pun mengunjungi halaman yang lain dengan alamat: manisnyaiman.com. Pada halaman blog ini pun mengkaji kajian yang tidak kalah berbobot namun yang menjadi titik pembahasan utama adalah banyaknya hadits-hadits lemah bahkan palsu yang dicantumkan atau diutarakan oleh Al-Ghazali dalam bukunya tersebut (Ihya’ Ulumiddin). Saya membaca dengan seksama apa yang dipaparkan oleh penulis – Ustadz Abdullah Taslim, M.A mengenai kajiannya terhadap kitab tersebut. Dan makin membuat saya penasaran untuk mengunjungi halaman berikutnya yaitu sebuah majalah islam yang beralamat di: majalah-assunnah.com yang pada Edisi 01/tahun XV mencantumkan mengenai pembahasan tentang kitab Ihya’ Ulumiddin. Tapi, yang saya temukan hanya sebatas informasi umum mengenai pembahasan dalam majalah tersebut.
Setelah membaca tulisan-tulisan yang tercantum didalam halaman yang saya kunjungi tersebut, maka saya terbayang dengan kitab Ihya’ Ulumiddin yang saya beli sekitar 1 bulan yang lalu. Kitab yang saya beli di sebuah toko buku yang ada di sebuah mall yang ada didekat rumah saya tersebut merupakan sebuah ketidaksengajaan. Sewaktu istri saya meminta saya untuk menjemputnya sehabis belanja, saya dan istri tercinta berkeliling didalam toko buku itu dan menemukan kitab dengan dua edisi 1 dan 2. Saya pun kontan membelinya karena jujur saja, saya termasuk orang yang penasaran dengan kesohoran Ihya’ Ulumiddin yang dibeberapa kesempatan tausiyah saya menemukan beberapa penceramah mengutip bahasan dari kitab ini.
Seperti biasa, yang namanya buku baru saya pun dengan semangat membuka dan membaca buku ini. Mulai dari halaman penghantar malah. Buku yang dicetak oleh Republika Penerbit ini memiliki desain dan tampilan fisik yang menggugah selera sehingga membuat saya makin semangat untuk membacanya dengan seksama dan berhati-hati karena bagi saya buku-buku itu seperti barang berharga yang harus dijaga dengan baik kondisi fisiknya. Selesai membaca halaman penghantar, saya pun memasuki bahasan awal dari buku yang ditulis Al-Ghazali yang hidup pada tahun 1058-1111 M ini. Bahasan buku jilid 1 yang membahas tentang ILMU & KEYAKINAN ini adalah tentang ilmu dan dasar-dasar tentang kewajiban menuntut ilmu. Sebuah tema pembahasan yang sangat menarik ini diawali dengan beberapa dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an tentang gambaran kemuliaan ilmu. Sampai disini saya masih sangat menikmati pembahasannya. Sampai pada satu alenia, saya menemukan Al-Ghazali mengutip pernyataan-pernyataan ‘cantik’ yang mengandung pesan-pesan moril yang sungguh bijak. Tapi apa yang saya temukan? Ternyata, berbagai kutipan indah dan cantik itu diambil (menurut Ghazali) dari hadits-hadits Rasulullah SAW. Tapi bukan itu yang membuat timbulnya pertanyaan besar dari dalam bathin ini, nomor keterangan disamping hadits-hadits yang dikutipnya (Ghazali) sebagai catatan kaki itu lah yang membuat saya memiliki pertanyaan dan mempertanyakannya. Anda tahu apa yang saya temukan? Dalam catatan kaki tersebut, hadits-hadits tersebut dijelaskan sebagai hadits yang bersifat Dha’if (lemah) yang jumlahnya hampir 90% dicantumkan dalam bahasan awal buku ini dan hanya beberapa saja yang disebutkan sebagai hadits Muttafaqun’alaih (H.R. Buchori & Muslim). Timbulah pertanyaan didalam hati:
Apa alasan seorang Al-Ghazali mencantumkan hadits-hadits Dha’if (lemah) dalam bahasan awal buku ini? – Mengapa imam sebesar (anggapan selama ini) Al-Ghazali begitu ‘vulgar’ tanpa ragu mencantumkan hadits-hadist tersebut (dha’if) kedalam kitab yang sudah sangat terkenal ini? - Apakah tak ada hadits-hadits Shahih dari Rasul SAW yang menggambarkan keutamaan mengenai ilmu yang dapat ia (Ghazali) cantumkan kedalam kitabnya ini?
Namun, segera saja saya menyikapinya dengan berprasangka baik untuk melanjutkan bahasan-bahasan dalam kitab tersebut. Tapi, apa yang saya temukan berikutnya adalah sebuah pernyataan dari Al-Ghazali yang ‘seperti’ menantang mereka (yang dianggap Ghazali sebagai orang-orang yang memiliki pemahaman berbeda dengan dirinya) untuk ‘beradu’ ilmu dengan dirinya. Ini tercantum pada BAB 2 bukul Ihya’ Ulumiddin jilid 1 ini. Muncul lagi pertanyaan saya:
Apakah seorang ulama yang melihat sebuah kekurangpahaman dari seseorang/sekelompok kaum atau perbedaan pendapat lantas membuat sebuah pernyataan menantang beradu ilmu? – Bukankah Dakwah itu sebuah tugas penyampaian dan bukanlah penantangan?
Sampai pada pernyataan ini, saya menutup buku ini. Dan sejenak merenung apa yang sebenarnya terjadi didalam buku ini sampai saya diawal-awal sudah memiliki pertanyaan yang begitu besar yang tidak saya temukan jawabannya dari penulisnya sendiri. Sebuah hal yang cukup membingungkan seorang seperti saya. Dan akhirnya pun saya melakukan pemeriksaan kecil terhadap buku Ihya Ulumiddin yang sudah saya miliki dan kitab yang saya periksa adalah kitab nomor 1 – Ilmu dan Keyakinan dari dua jilid kitab ini (yang sudah saya miliki sekarang). Setelah melakukan sedikit pemeriksaan dengan apa yang dipaparkan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A, bahwa benar lah saya menemukan keterangan yang sama dengan apa yang dipaparkan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. Saya menemukan sedikitnya 5 hadits yang dinyatakan didalam catatan kaki buku yang dimaksud (Ihya’ Ulumiddin Jilid 1) sebagai hadits Dha’if (lemah) bahkan ada yang dinyatakan oleh penerjemah dengan status Dha’if Jiddan (lemah sekali) bahkan yang lebih mengejutkan bahwa penerjemah menyatakan bahwa hadits yang dicantumkan didalam kitab tersebut yang terdapat pada Bab Keempat halaman 105 dengan nomor hadits yang dicantumkan 177 yang berbunyi:
“Seorang Mukmin itu adalah pribadi yang terbebas dari memiliki rasa dendam terhadap sesama.”
sebagai hadits yang tidak saya (penerjemah) temukan. Masya Allah…
Berikut ini adalah beberapa hadits Dha’if (lemah) bahkan yang dinyatakan tidak ditemukan oleh penerjemah yang saya temukan didalam Ihya’ Ulumiddin cetakan Republika Penerbit, 2011 pada jilid 1 – Ilmu dan Keyakinan yang sama/persis dengan apa yang dipaparkan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A,:
- Halaman 81 nomor hadits 135:
“Sedikit taufiq (petunjuk) dari Allah jauh lebih baik darpada banyak memiliki ilmu (tanpa taufiq).” - Halaman 105 nomor hadits 177:
“Seorang Mukmin itu adalah pribadi yang terbebas dari memiliki rasa dendam terhadap sesama.” - Halaman 108 nomor hadits 181:
“Hamba yang sangat menderita dengan ditimpa azab (siksa) pada Hari Berbangkit nanti adalah; siapa yang memiliki ilmu, yang ilmu itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya.” - Halaman 110 nomor hadits 184:
“Agama itu ditegakkan atas kesucian.” - Halaman 162 nomor hadits 237:
“Ulama yang terburuk adalah mereka yang gemar mendatangi rumah para penguasa. Sebaliknya, penguasa yang terbaik adalah mereka yang gemar mendatangi rumah-rumah ulama.”
Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud memberikan penilaian bahwa bahwa seorang Al-Ghazali adalah imam sesat atau kitabnya mengandung banyak kekeliruan karena kapasitas ilmu agama saya yang masih sangat sedikit ini. Tulisan ini dimaksudkan sebagai curahan kegundahan hati saya terhadap sebuah kitab yang sangat populer namun bagi saya pribadi sudah menimbulkan pertanyaan yang sampai saat ini saya belum mendapatkan penjelasannya. Namun tulisan-tulisan yang saya baca yang sudah saya cantumkan link-nya didalam tulisan ini telah memberikan saya sebuah perenungan tentang para ulama, para cendikiawan, para akademisi yang ada disekitar saya ataupun di Indonesia yang sesungguhnya ini (pernyataan bahwa Ihya’ Ulumiddin adalah kitab sesat) adalah sebuah isu akidah yang tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa adanya penjelasan dan bimbingan dari mereka yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni. Tapi apa yang ada sekarang sebagian besar dari mereka sibuk berkutat dalam isu-isu politik yang tidak mempedulikan akidah ummat Islam. Sibuk dengan fatwa-fatwa yang bahkan ummat sendiri tidak tahu dasar-dasar ilmu dari fatwa tersebut karena selama ini pendidikan terhadap dasar-dasar akidah dan pengetauan tentang ilmu agama islam yang masih sangat kurang.
Sejujurnya, saya sedang bersedih hati melihat kenyataan ini. Ada tausiyah di televisi tapi penceramahnya jumpalitan seperti ulat nangka bahkan isi ceramahnya pun tidak pernah menyebutkan dasar dalil yang dia sampaikan. Atau di lain sisi, saya melihat perlombaan majelis taklim ibu-ibu yang begitu ramainya yang diselenggarakan di pelataran atau di lingkungan masjid namun serakan sampah makanan dan minuman tumpahruah di sana sini.
Saya berdoa, semoga Allah Swt. mengutus para hamba-Nya yang istiqomah berjihad fisabilillah dengan memberikan pengajaran dan pendidikan tentang ilmu agama islam. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah untuk kekasih Allah Swt. Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW., keluarga, para sahabat dan para ummat islam yang menjadi pengikut beliau, manusia paling mulia itu.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين





kitab ihya karya alghazali bukan sebuah kitab baru. sudah bertahun2 lamanya dan beratus ribu orang yang membacanya. mengapa baru sekarang dan anda ya yang menemukan keraguannya?
Posted by sumantri | July 10, 2011, 3:12 pmTerima kasih, mas sumantri.
Ada tiga hal penting yang menjadi dasar saya menulis perihal ini.
Pertama: Saya seorang yang memiliki antusias dalam membaca dan kitab ini baru saya dapatkan yang sebenarnya sudah saya inginkan sejak lama. Dan apa yang saya tulis ini merupakan sebuah KESAN yang saya dapatkan disaat saya membaca buku ini yang membutuhkan BIMBINGAN dari semua pihak yang mumpuni dalam hal-hal diskusi seperti ini.
Kedua: Tulisan ini bukan lah sebuah penilaian atau pun bermaksud menghakimi seorang besar seperti Al-Ghazali yang secara nyata bahwa ia jauh lebih baik dari saya. Beliau seorang yang tak bisa ditampik sosok seorang yang memiliki semangat menuntut ilmu dan sudah menjadi cerminan banyak orang dalam hal tersebut.
Ketiga: Mungkin Allah SWT baru ‘mempertemukan’ saya dengan kitab ini dan dengan Rahmat Allah juga saya bisa menulis tentang kesan serta manfaat yang luar biasa yang sampai hari ini saya dapatkan setelah saya membaca kitab ini. Bagaimana pun, Ihya Ulumiddin adalah sebuah kitab ilmu yang banyak mengandung hikmah. Dan semoga Allah memberikan banyak hikmah dari apa yang sudah ada didalam kitab ini dan mereka yang sudah mengkajinya.
Posted by Wahyu | July 14, 2011, 7:23 amAssalamu’alaikum,
Salam kenal mas. Tulisan yg bagus. Sayapun dulu jg kagum dengan kitab ini dan saya shock ketika ada tulisan2 yg menjelaskan bahwa kitab ini berisi sejumlah penyimpangan dan kesesatan2 yg hanya dapat dikenali oleh para ulama. Saya jg punya kitab Ihya tetapi berupa mukhtashor (ringkasan) dan ada pentahqiqnya juga. Dan ternyata setelah saya beberapa kali baca ulang dengan teliti, saya menemukan penyimpangan2 itu sama seperti yg dimaksud tulisan2 tersebut.
Hmmm…dalam hati pun saya berpikir spt mas jg, ada apa dengan seorg yg bergelar Hujjatul Islam sampai2 ia tidak hati2 dalam memasukkan hadits2 sehingga bercampur dengan hadits2 dhoif dan maudhu’, apakah beliau tidak merujuk pada kitab2 hadits mu’tabar dari ulama2 muhaddits pendahulunya?. Anyway, biar gimana jg beliau tetaplah seorg ulama besar dan memasukkan beliau ke dalam ulama sesat sungguh sesuatu yg keterlaluan karena kebaikan dalam diri beliau masih lebih banyak dibanding kekeliruannya. Dan terlebih lg, beliau bukanlah sosok yg terbebas sama sekali dari kesalahan. Saya teringat ucapan Al Imam Malik -rahimahullah- : Seseorg bisa diterima/ditolak ucapannya kecuali Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Semoga Imam Abu Hamid Al Ghazali diampuni kekeliruannya oleh Allah Ta’ala dan ditempatkan di tempat yg layak di jannahNya. Amin
Afwan mas, biasanya fanatikus Al Ghazali tidak akan terima membaca artikel kritik ini, jadi pesan saya bersabarlah terhadap mereka bila mereka berkunjung dan berkomentar di artikel ini.
Posted by Tommi | July 11, 2011, 4:44 amAlhamdulillah, segala puji bagi Allah…
Terima kasih, mas Tommi atas masukannya. Semoga Allah melindungi dan menyayangi anda dan keluarga..
Tak beberapa lama setelah saya menulis tentang kitab ini, saya menemukan jawaban yang Subhanallah sangat baik.
Dari seorang teman saya lah jawaban itu saya dapatkan dan semoga Allah merahmati beliau. Amin.
Apa yang saya dapatkan sebagai kesimpulan saat ini adalah:
1. Imam Al-Ghazali adalah seorang tokoh besar yang sudah menghasilkan karya-karya besar. Al-Ghazali adalah seorang manusia biasa yang tentunya kita bisa bersikap berbaik sangka dengan kenyataan ini. Seperti yang Allah katakan bahwa bisa jadi sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan begitu juga sebaliknya. Bisa jadi apa yang kita dapat sebagai sebuah penilaian buruk dari berbagai tulisan-tulisan yang ada terhadap kitab ini dan Al-Ghazali tapi Allah memberikan banyak hikmah kepada kita melalui kondisi tersebut.
2. Hadits-hadits Dha’if yang tercantum didalam kitab tersebut, secara isi perkataan mengandung kebaikan dan bisa memberikan kita motivasi baru dalam menyerapi maknanya. Sama seperti perkataan para motivator yang bisa berdampak positif bagi seseorang. Namun, jika berbicara mengenai kedudukan hadits dha’if untuk menentukan suatu hukum halal dan haram, tentunya ada pihak-pihak yang lebih mengerti dan mumpuni untuk menjelaskannya yang sudah memeiliki kapasitas ilmu yang memadai. Kalau saya, masih fakir ilmu
3. Dan jelaslah, bahwa apa yang saya tulis ini adalah sebuah masukan bagi mereka yang memiliki pemahaman, ilmu dan pendidikan agama islam yang baik yang saat ini menjauh dari urusan ummat yang rindu tentang pengajaran, pengkajian dan pemahaman ilmu-ilmu agama melalui kitab-kitab yang telah ditulis orang-orang besar seperti Al-Ghazali ini. Sehingga orang-orang seperti saya masih membutuhkan banyak bimbinan dan nasehat bisa merasakan berkurangnya ‘dahaga’ tentang ilmu agama yang mulia ini.
Semoga Allah senantiasa merahmati kita ummat Islam yang selalu setia berpegang kepada Kitabullah dan Rasulullah SAW.
Posted by Wahyu | July 14, 2011, 7:44 amjadi bagaimana ini mas wahyu, saya kebetulan baru punya buku jilid 1 nya, diteruskan atau tidak ya bacanya ?
Posted by abdqym | August 10, 2011, 10:55 pmGak apa, mas. Baca aja kitabnya. Bagus kok. Banyak hikmah yang bisa kita dapetin kalo membaca buku ini. Selagi gak membawa ke dalam ke- murtada-an, gak salah juga
Posted by Wahyu | September 19, 2011, 2:36 amMo komen panjang…
1. Derajat hadis dari shahih, hasan, dhoif ataupun maudu itu sangat relatif. Sesuatu yang dianggap shahih oleh salah satu perawi, bisa dianggap dhoif oleh perawi lainnya. Makanya, hadist Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dll, meskipun banyak irisan kesamaannya, tapi sangat banyak pula yg berbeda. Ada yg oleh Bukhari dianggap shahih, tapi oleh Muslim gak dibukukan di kitab hadistmya, dll. Makanya ada berbagai mahzab (let say syafi’i, hambali, hanafi, maliki, bahkan jafari-syiah), itu salah satu sebabnya karena pemilihan hadist yg “paling benar” menurut mereka bisa berbeda-beda. Ingat, khilafiyah itu sudah menjadi “kesepakatan umum” untuk tidak dibesar2kan.
2. Semua peneliti hadist yang mengkategorikan hadist2 di buku Al-Ghazali sebagai hadist dhoif bahkan maudu adalah peneliti hadist yg hidup di jaman jauh sesudah al-ghazali. Silahkan cek nama2 yg ditampilkan sebagai pengkategori hadist2 tersebut lemah/palsu dari tulisan Ustadz Abdullah Taslim, M.A. Adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani, As-Subki, adalah orang-orang yang hidup ratusan tahun setelah era Al-Ghazali. Andaikanpun ternyata penelitian mereka benar bahwa banyak hadist dhoif dan maudu’ di dalamnya, alangkah lebih baiknya untuk berhusnuzan bahwa al-ghazali tidak berniat untuk menipu umat. Mungkin beliau khilaf, dan tidak mengetahui bahwa beberapa hadist yg dia tampilkan ternyata dhaif bahkan palsu. Toh, selama ratusan tahun, hampir semua ulama dari berbagai kelompok/mahzab/pemikiran menganggap buku itu sebagai buku yang baik.
3.. Kalo gw liat sekilas di tulisan Ustadz Abdullah Taslim, M.A (yg manisnyaiman.com), hampir semua kritikan bersumber dari satu kelompok, yaitu kelompok yg menyebut mereka ahlussunah wal jamaah (dalam artian sempit, bukan seperti yg umumnya orang muslim kenal) atau salafi/salafiyah. Silahkan googling nama2 Ibnu Taimiyah, Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthuusyi, Adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani, As-Subki, maka kita akan sadar bahwa mereka semua berasal dari “satu kelompok pemikiran” yang sama. Jadi wajar kalo semua satu suara. Hal ini berbeda kalau misalkan kritikan buku Al-Ghazali tersebut berasal dari kelompok/mahzab/pemikiran berbeda, tentunya kritikannya akan jauh lebih valid.
4. Selanjutnya, untuk sekedar membuka mata… Coba cek situs2 yang berisi dakwah salafi. Akan sangat banyak kita temukan bahwa betapa banyaknya kajian2 mereka yang berhubungan dengan “si anu sesat”, “ibadah ini bid’ah”, dsb. Kalo mo konsisten ikut pemikiran salafi, maka akan dengan mudah kita kategorikan organisasi macam NU, Muhammadiyah, Persis, Ihwanul Muslimin, hizbut tahrir, dll sebagai aliran sesat, karena banyak dari pemikiran/ibadah/fiqh,dll organisasi2 tersebut yang menurut kaum salafi sebagai bid’ah bahkan sesat.
Posted by ichanx | August 14, 2011, 12:17 amoh, mengenai penentuan jenis hadis dhoif/maudu’ oleh kelompok salafi, bisa dilihat beberapa contohnya di http://salafytobat.wordpress.com/2009/02/16/albany-wahaby-mencelarukan-lebih-dari-1000-hadits/ (meskipun gw sendiri gak setuju dengan hampir keseluruhan isi blognya, tapi artikel yang dimaksud lumayan membantu kita untuk mengerti bahwa seabuah hadist yang dianggap lemah ataupun palsu sebenarnya bisa menjadi hadist sahih atau hasan di mata perawi/ulama/tokoh agama lainnya)
Posted by ichanx | August 14, 2011, 6:56 amSubhanallah, akhirnya ichanx dateng ke blog saya… Well, makasih banget atas paparanya. Saya mendapati perkembangan informasi mengenai kitab ini setelah saya mem-posting tulisan ini. Dan wajarlah, ternyata pemahaman tentang hadist itu sungguh luas. Perkaranya sekarang ini, banyak ummat yang masih terkotak-kotak dengan ‘status’ Shaih atau Dhoif. Terkotak-kotak ini maksudnya, mereka hanya ‘mentok’ sebatas pernyataan tersebut tanpa menggali lebih dalam mengenai ilmu hadists. Termasuk dengan metode penetapan katagorinya. Makin banyak menggali, insya Allah akan menjadikan kita semakin bijak.
Well, kitab Ihya ‘Ulumiddin merupakan kitab yang bermanfaat sekali. Beberapa wejangan dari Ghazali memberikan pencerahan bagi saya pribadi, salah satu contohnya bagaimana bersikap arif dalam menuntut ilmu dan memanfaatkannya agara menjadi sebuah amalan jariyah. Subhanallah
Posted by Wahyu | September 19, 2011, 2:19 amMau nambahain nih… Di Gramedia, secara tidak sengaja saya melihat beberapa kitab ini yang diterbitkan oleh beberapa penerbit. Yang saya temukan adalah, memang sedikit ada perbedaan dalam pemaparan sumber hadists. Dan bagi saya, cukuplah sampai disitu saja dan tidak perlu membahas mengenai pendalaman status hadist-hadist yang tercantum. Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari yang ada. Insya Allah
Posted by Wahyu | September 19, 2011, 2:24 amIkut nimbrung ya..dalam kitab yasaluunaka fiddin wal hayat karya Ahmad Syarbasi, sebagaimana dikutip Prof.Dr.T.Fuad Wahab, dikisahkan ketika Syaikh Mustafa Al Maraghi berpamitan kpd Syaikh Muhammad Abduh untuk menjadi Qadli di Sudan, yang ditanyakan Muhammad Abduh kepadanya adalah : Apakah anda telah membawa juga kitab Ihya Ulumiddin karangan Al-Ghazali?. Juga Ketika syaikh Jamaluddin alQasimi (seorang Mufassir terkenal) berkunjung ke Muhammad Abduh, Muhammad Abduh berkomentar tentang Ihya, bahwa Kitab nasihat dan pengajaran yang paling besar adalah Ihya, seandainya bisa disingkat dengan baik. Maka syaikh al_Qasimi pun membuat ringkasan Ihya kitab yang berjudul “mauidhatul mukminin min ihya ulumiddin”. Semoga bermanfaat Wallahu a’lam bishawab. Salam untuk semuanya.
Posted by miftah | October 5, 2011, 11:28 pmAlhamdulillah, saya sangat berterima kasih atas masukan dan komentarnya. Semoga anda dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT
Posted by Wahyu | December 20, 2011, 8:48 amKebenaran mutlah milik Allah, kita sebagai manusia harus bersyukur karena diberi akal agar terus belajar.
Subhanallah tulisannya bagus mas, nambah ilmu
Posted by wahyu asyari m | October 10, 2011, 2:16 amTerima Kasih, semoga menjadi awal yang baik untuk kita bisa menjalin silaturahim
Posted by Wahyu | December 20, 2011, 8:49 amhttp://bantahansalafytobat.wordpress.com
Posted by aboehasna | November 11, 2011, 3:34 pmthank share info
Posted by choo | November 20, 2011, 12:33 am