CALO yang PROFESIONAL….
Hari ini, baru saja saya mengambil Pajak Motor di kantor SAMSAT Palembang. Ada kejadian yang sangat menarik perhatian saya pada saat saya melakukan pembayaran Pajak Kendaraan saya tersebut. Pas masuk ke pintu MASUK kantor SAMSAT tersebut, saya sudah disambut dengan papan himbauan yang bertuliskan: “MENGURUS SURAT KENDARAAN BERMOTOR JANGAN MELALUI CALO”.
Wah, bagus sekali pesan moral ini… Tanpa ragu saya pun langsung masuk ke ruangan tempat mengurus pajak kendaraan saya.
Tiba-tiba… Saya langsung dikerubunin oleh sekumpulan orang yang sembari bilang: “Pajak motor apa mobil…? Murah aja.. Paling uang buat rokok aja boleh.. Sejam selesai..”. Waduh… Apa-apaan ini…??? Luar biasa, baru saja membaca himbauan tadi, eh.. gak taunya didalam ‘bersarang’ puluhan calo yang tanpa segan dan cangung menawarkan jasa mereka.
Tapi kok malah saya memberi judul tulisan ini dengan: “CALO yang PROFESIONAL”?
Begini ceritanya:
Di-STNK kendaran saya itu tertulis nama pemilik terdahulu dan saya tidak mem-Bea Balik Nama kepemilikannya. Biaasa… Malez… Trus, syarat untuk mengurus pajak kendaraan adalah:
- Adanya KTP ASLI Pemilik yang sesuai dengan STNK dan BPKB kendaraan
- Photocopy BPKB dan STNK
- Uang Pajak yang sesuai dengan yang tertera di STNK
Kebeneran, saya kan membeli motor tersebut tidak baru alias second. Dan (lagi-lagi) kebeneran, KTP saya expire dan (lagi-lagi juga) malez ngurusnya.
Pada saat, saya mendatangi meja loket tempat membayar pajak… Saya sudah disodorin wajah MASAM, JERAWATAN, JUDES, dan nada bicara yang rada-rada agak MEMBENTAK. “Beli MAP dulu sana dikoperasi”. Langsung aja dia nyembur. Di meja loket tersebut tak kurang ada 3-4 petugas laki-laki dan perempuan yang kesemua tampangnya sama aja, yaitu: MENYEBALKAN.
Kenapa saya memilih CALO sebagai SOLUSI???. Ini jawabannya:
Pajak Motor yang wajib dibayar sebesar : Rp. 166.000,-
Dengan Memenuhi syarat yang disebut diatasTapi, karena saya bukan orang yang beridentitas sesuai dengan STNK dan BPKB. Maka, saya harus membayar:
Pajak motor yang wajib dibayar sebesar : Rp.166.000,-
Uang Pelicin KTP sebesar : Rp. 70.000,-
Uang rokok CALO sebesar : Rp. 14.000,-
Total yang saya keluarkan adalah : Rp. 250.000,-
Dengan mengeluarkan biaya sebesar ini, saya sudah mendapat fasilitas:
- Layanan SUPER CEPAT dari CALO bersangkutan, karena dalam tempo kurang dari 10 menit berkas pajak saya sudah masuk.
- Layanan konfirmasi yang prima karena saya dihubungi saat pajak telah selesai.
- Sambutan ramah dan segar serta penampilan CALO yang formal (pake safari, bro..)
- Nomor telepon gengam yang 24 jam siap dimintai bantuan
Memang adanya selisih harga sebesar: Rp. 84.000,-
Bagi saya, selisih harga ini PANTAS dikeluarkan dengan melihat PELAYANAN yang bisa saya dapatkan. Saya pun melihat, jika saya memperjuangkan untuk tidak mengeluarkan Rp. 84.000,-. Maka, yang akan saya dapatkan adalah:
- Sambutan yang kurang ramah
- Palayanan yang lambat
- Belum lagi dibentak-bentak
- Pasti KTP saya akan dipermasalahkan dan akan dikenai denda
- Kepastian selesainya pajak dengan kondisi saya tersebut tidak bisa dijamin selesai dalam satu hari
Dan inilah yang membuat saya memilih CALO sebagai SOLUSI. Dan akhirnya saya simpulkan, PELAYANAN / SERVICE adalah salah satu unsur yang membuat konsumen / masyarakat berani kembali untuk bekerjasama ataupun melakukan hubungan kembali dengan kita. Dan ini sudah sangat dipahami sekali oleh CALO yang PROFESIONAL yang mengurusi pajak kendaraan saya bahkan hal ini tdak ada sedikit pun terbersit didalam kinerja para aparat di kantor pelayanan milik POLRI ini.
Tapi, kalau diwawancarai oleh media.. Seakan-akan PROFESIONALISME aparat ini sudah sangat teruji, tapi kenyatan yang ada adalah sikap tidak kesatria mengakui kekurangan dan kelemahan mereka kepada publik. Bahkan untuk menemui / menemukan CALO di SAMSAT Palembang tidak lah sulit. Cari saja orang-orang yang tersenyum ramah kepada anda dengan mengenakan pakaian perlente / safari. Jangan anda kira mereka aparat, tapi (mungkin saja) meraka adalah CALO yang PROFESIONAL.
Satu pesan saya kalau anda ingin memakai jasa CALO yang PROFESIONAL, milikilah intuisi anda dalam memilih CALO yang tepat untuk anda.
Selamat mencoba

Ada beberapa fenomena menarik akhir-akhir ini dikota Palembang (khususnya) mendekati pesta demokrasi yang akan diselenggarakan pada bulan April nanti. Apalagi kalo bukan Pemilu untuk memilih para anggota legislatif. Kali ini saya bukan mau membahas soal tata cara nyoblos / conteng, atau mau mengkampanyekan siapa yang harus dicoblos. Saya sih rasional aja kalo mau nyoblos nanti, eh sebenernya agak kurang setuju dengan kalo ada orang yang gak tau harus milih siapa / partai mana dianggap sebagai golput. Lebih senang disebut golras alias golongan rasional, he…he…he… Kembali ke topik awal, sebenernya ada yang membuat saya rada geli melihat mereka yang nyoba-nyoba ‘ngadu nasib’ sebagai calon anggota legislatif alias caleg adalah berbagai semboyan yang mereka pakai untuk menarik minat masyarakat biar nyoblos mereka dan satu lagi yang menjadi pembahasan tulisan saya kali ini, yaitu: dipasangnya tampang-tampang manis dan menawan (serta mungkin juga merangsang, huahahahaha) yang jujur saja memang sesuai dengan selera laki-laki pada umumnya. Bukti ini saya temukan diberbagai tempat yang sering saya lewati baik dibeberapa jalan protokol dan juga didekat rumah saya. Saya sempet mikir: “Kok, dulu gak ada ya caleg yang model beginian…” Entah, mungkin memang punya panggilan hati nurani yang kuat untuk berjuang demi rakyat, atau iseng atau mungkin kursi legislatif bisa sebagai sarana bikin orangnya banyak duit, atau juga karena udah makin sulit cari kerjaan, daripada nganggur mendingan nyaleg yang memang sering kita denger kerjanya anggota legislatif kan memang minim. Dikit-dikit rapat, duduk, denger, ngobrol bentar udah itu dapet duit. Pulang sidang…???? Let’s go to the Mall, Baby….. Atau bisa juga, yang manis-manis ini dipasang sebagai ‘alat’ untuk bikin tertarik kalangan muda (khususnya yang cowok) biar minat terjun ke politik / parpol (yang masang simanis tadi) seraya menumbuhkan pesan: “eh, kalo elu gabung ke paprol kita neh… ceweknya pada semok, montok, manis, geulis, seksi, persis kayak yang elu liat. Liat tuh yang nyalon, cantik-cantik kan…”
Huahahahaha, kayaknya maunya cowok semua ya… Tapi itu Cuma sebagai suara saya untuk para cewek cantik yang masang tampang sebagai caleg. Maksudnya, biar lebih eksis dari jauh-jauh hari sebelum ikut perpolitikan. Emang, harus jadi anggota legislatif dulu apa baru bisa mensejahterakan rakyat. Kalo gak jadi anggota legislatif gak bisa bantu…???. Harusnya kan bisa. Ambil contoh, kalo yang cantik-cantik ini punya keahlian yang positif, dari dulu-dulu dong dibagi sama masyrakat semisal anak-anak remaja yang pengen cantik bisa diarahkan bagaimana caranya berpenampilan menarik. Atau yang punya daya kreasi seni, bisa diajarkan kepada cewek-cewek agar bisa tertular jadi kreatif dan sebagainya…








SocialVibe