Disaat pertama kali saya mengenal Adobe Photoshop melalui seorang webmaster, saya mulai berani untuk bertanya “bagaimana caranya?”. Jujur saja, setiap kali saya melihat majalah, koran ataupun halaman gambar, terlebih lagi fotografi, saya selalu dibuat penasaran sekaligus terkagum-kagum. Bagaimana gambar-gambar hebat ini bisa dibuat. Pikiran saya seakan terbang ke masa 13 tahun yang lalu disaat saya masih duduk di bangku sekolah menengah farmasi (SMF) di Palembang. Pada saat itu, masing-masing kelas ingin menunjukan eksistensi kelompok mereka dengan membuat kaos kelas. Nah, saat itu ada seorang siswa yang sudah memiliki komputer. Perhatian saya sempat tersita saat kelas tetangga, yang waktu itu kakak tingkat kami mendadak heboh. Setelah diketahui, rupanya mereka sedang kagum dengan gambar yang tercetak di atas selembar kertas ukuran F4. Saya pun sempat kagum, “betapa kerennya gambar ini.. Gimana caranya ya?” Saya bergumam dalam hati. Dan pertanyaan itu pun terjawab dengan sedirinya oleh salah seorang dari mereka yang bilang: : “Ini buatnya pake komputer, keren kan..” sambil pasang gaya berkacak pinggang. Imajinasi saya waktu itu pun terbang ke masa sekarang dimana saya bisa membuat segala bentuk kreatifitas gambar dengan fasilitas desain yang memadai. Menembus batas imajinasi dan kreasi. Itulah yang saya bayangkan saat itu. Dan saya pun sekarang sampai pada masa dimana saya pernah membayangkan masa itu. Continue reading
Berawal dari sebuah ucapan yang saya sampaikan di mailing-list Blogger Wongkito tentang wafatnya Da’i besar sejuta ummat – KH. Zainuddin MZ dimana apa yang saya sampaikan dalam mailing-list tersebut mengutip tulisan yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali melalui kitab yang ditulisnya yang berjudul Ihya’ Ulumiddin. Entah mengapa, disaat saya menutup kutipan tersebut dengan keterangan yang diambil dari kitab Ihya’ Ulumiddin, timbul ragu dalam hati saya apakah ejaan judul kitab tersebut sudah benar atau salah. Yang membuat saya ragu terhadap ejaannya adalah apakah Ihya’ Ulumuddin atau Ihya’ Ulumiddin? Hali ini terus-menerus berputar-putar dalam pikiran saya sepanjang langkah kaki saya dari masjid menuju kantor.
Pernah mandi pake air kolam ikan belon? Saya bisa dikatakan mirip. Beneran loh.. Saya mandi bukan di kolam ikan, bukan juga segaja mandi di kolam ikan ataupun kecebur kolam ikan. Saya mandi dirumah tapi air mandinya mirip banget dengan air kolam ikan. Haah.. Heran kan..
Nyampe dirumah trus mandi, sholat. Eh, kebalik. Sholat trus mandi trus menyeduh kopi dan setelah hangat dituang dengan susu full krim. Gak sabaran, kopi susu racikan sendiri ini pun diseruput. Wuiih… Nikmatnya sampe ke ubun-ubun. Tapi, tiba-tiba pikiran saya seperti memutar kembali kejadian di kantor tadi siang. Saya seperti gak bisa melepaskan pikiran tentang sosok seorang anak yang ikut sebagai peserta tes wawancara di kantor saya. Bukan tes wawancara untuk dapetin kerjaan tapi wawancara untuk menjadi mahasiswa baru.
“ALLAH itu Sang Maha Pecemburu. Ada dua hal yang menyebabkan ALLAH itu cemburu kepada hamba-Nya. Pertama, jika hamba-Nya melakukan perbuatan Syirik dan kedua, jika hamba-Nya melakukan perbuatan maksiat. Jikalau seorang hamba melakukan perbuatan maksiat, maka ALLAH akan menunjukkan kecemburuan-Nya dengan berbagai macam cara. Sebagai contoh, ALLAH akan mengambil harta benda hamba-Nya agar hamba-Nya menjadi ingat kepada ALLAH. Ada juga yang diambil kesehatannya, agar hamba-Nya menjadi taat kepada ALLAH. Ada juga yang diambil jabatannya agar hamba-Nya menjadi meratap kepada ALLAH. Dan masih banyak cara ALLAH membuat hamba-Nya agar teringat, berharap, meratap dan bermohon kepada ALLAH.” Yusuf Mansyur
I posted it from my BlackBerry
New Comments